AdvertorialParlemenTanah Bumbu

Komentar di Mengenal Desa Batulicin Irigasi, Juara HATINYA PKK Tingkat Nasional oleh Anonim

*Jadi Desa Definitif Tahun 1998

 

BATULICIN – Cerita terbentuknya Desa Batulicin terjadi sejak tahun 1990. Tapi bukan desa pemekaran. Desa Batulicin Irigasi merupakan bagian dari wilayah Desa Mekar Sari. Namun pada tahun 1989, Departemen Transmigrasi melakukan ganti rugi tanah warga. Setelah lahan itu dibebaskan, pada tahun 1990 ditempatkanlah warga transmigrasi.

“Tapi secara administratif, kita masih ikut Desa Mekar Sari waktu itu. Setelah tahun 1998, Desa Batulicin Irigasi baru definitif,” jelas Kepala Desa Batulicin Irigasi Supriyadi.

Nama Desa Batulicin Irigasi diambil dari nama kecamatan (waktu itu masih masuk Kecamatan Batulicin) dan irigasi diambil dari nama program proyek penempatan transmigrasi disini.

“Setahun kemudian atau pada tahun 1999, Desa Batulicin Irigasi sudah memiliki kepala desa definitif,” kata pria kelahiran Batulicin, 15 Juli 1981.

Pada tahun 1990, jumlah warga yang mendiami desa ini hanya sebanyak 300 kepala keluarga (KK). Dengan rincian 150 KK transmigrasi lokal atau pemilik tanah asal dengan berbagai macam etnis dan 150 KK sisanya berasal dari Magelang dan Banjarnegara, Jawa Tengah.

“Walaupun sudah diganti rugi oleh pemerintah, namun warga masih memberikan keleluasaan kepada pemilik tanah asal yang sudah diganti rugi tadi. Barang siapa yang mau ikut program tersebut dipersilahkan,” papar ayah dari Putra Dimas Aryoseto dan Paramitha Almira Reysa Putri.

Namun saat ini warga transmigrasi lokal sudah tidak ada lagi di desa tersebut. Diduga, warga lokal tidak tahan dengan kondisi desa saat itu.

“Dulunya desa inikan berupa hutan. Mungkin warga lokal cenderung tidak dapat bertahan dengan kondisi yang berat, kemudian tanahnya dijual-dijual. Sekarang mayoritas warga yang mendiami desa ini dari Pulau Jawa,” terang suami Wiwin Susanti seraya mengatakan warga yang mendiami desa tersebut beragama muslim semua.

Pada waktu itu, warga desa juga sudah bercocok tanam bertani sayuran. Akan tetapi, sebenarnya pemerintah menampatkan warga transmigrasi untuk mencetak sawah. Namun, program tersebut tidak bisa jalan karena irigasi yang dibangun pemerintah di desa itu tidak bisa dimanfaatkan karena lahannya kering dan posisi bangunan irigasinya lebih rendah dari lahan sawah milik warga.

“Akhirnya menjadi lahan kering,” ujar lulusan Prodi Peternakan Diploma 3 Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat Banjarbaru tahun 2003.

Masih cerita pada masa itu, awalnya masyarakat desa masih mengharapkan bantuan dari pemerintah. Namun seiring berjalannya waktu, masyarakat desa mulai bercocok tanam padi, sayur, palawija dan lain sebagainya. (karyono/media center)

 

sumber : mc.tanahbumbukab.go.id

Artikel Terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button